Afrizaln Malna TAK ADA ARTINYA


Afrizaln Malna
TAK ADA ARTINYA
Gema suaranya kembali lagi membuat dinding bunyi
Dari suaranya
Berdiri melingkar
Di depan bulatan penuh perangkap waktu Jari-jari yang menggenggam tikus
Dan perangkapnya di belakang membuat makan malam
Seperti bayangan yang meninggalkan betuknya
Memecah, tertawa, kisah-kisah perang yang
Dimuntahkan kembali dari ketakutannya
Cermin yang menjadi buta ketika melihat
Diding di dalamnya
Dan selembar rambut di atas koran pagi Air yang menyebrang di atas jembatan
Melintasi sungai
Melintasi tetesannya
Tanpa prasangka di hadapan daun kering yang
Menyimpan gema dari Hutannya

Sitok Srengenge Kereta


Sitok Srengenge
Kereta
1
Sendiri di Stasiun Tugu, entah siapa yang ia tunggu
Orang-orang datang dan lalu, ia cuma termangu
Sepasang orang muda berpelukan (sebelum pisah) seolah memeluk harapan
Ia mendesis, serasa mengecap dusta yang manis Kapankah benih kenangan pertama kali tumbuh, kenapa ingatan begitu rapuh?
Cinta mungkin sempurna, tapi asmara sering merana
Ia tatap rel menjauh dan lenyap di dalam gelap : di mana ujung perjalanan, kapan akhir penantian? Lengking peluit, roda + roda besi berderit, tepat ketika jauh di hulu hatinya terasa sisa sakit
2
Andai akulah gerbong kosong itu, akan kubawa kau dalam seluruh perjalananku
Di antara orang berlalang-lalu, ada masinis dan para portir
Di antara kenanganku denganmu, ada yang berpangkal manis berujung getir
Cahaya biru berkelebat dalam gelap, kunang-kunang di gerumbul malam
Serupa harapanku padamu yang lindap, tinggal kenang timbul-tenggelam
Dua garis rel itu, seperti kau dan aku, hanya bersama tapi tak bertemu
Bagai balok-balok bantalan tangan kita bertautan, terlalu berat menahan beban
Di persimpangan kau akan bertemu garis lain, begitu pula aku
Kau akan jadi kemarin, kukenang sebagai pengantar esokku
Mungkin kita hanya penumpang, duduk berdampingan tapi tak berbincang, dalam gerbong yang beringsut ke perhentian berikut
Mungkin kau akan tertidur dan bermimpi tentang bukan aku, sedang aku terus melantur mencari mata air rindu
Tidak, aku tahu, tak ada kereta menjelang mata air
Mungkin kau petualang yang (semoga tak) menganggapku tempat parkir
Kita berjalan dalam kereta berjalan Kereta melaju dalam waktu melaju
Kau-aku tak saling tuju
Kau-aku selisipan dalam rindu
Jadilah masinis bagi kereta waktumu, menembus padang lembah gulita
Tak perlu tangis jika kita sua suatu waktu, sebab segalanya sudah beda
Aku tak tahu kapan keretaku akan letih, tapi aku tahu dalam buku harianku kau tak lebih dari sebaris kalimat sedih

Piek Ardijanto Soeprijadi

Piek Ardijanto Soeprijadi
inggih punika sastrawan Indonésia angkatan 1966 ingkang miyos ing Magetan, Jawa Wétan tanggal 12 Agustus 1929 lan sampun séda ing Kota Tegal, Jawa Tengah tanggal 22 Mei 2001.
Piek Ardijanto sampun remen nyerat wiwit piyambakipun sekolah wonten ing SGA. Piyambakipun ugi remen ndhѐrѐk kathah lomba- lomba ngarang lan menang ing lomba- lomba punika, lajeng asiling karyanipun asring dipunkirim wonten ing majalah – majalah. Ing taun 1950, nalika piyambakipun dados guru ing sMP ing Gombong, piyambakipun saged ngasilaken kathah karya saking warahanipun guru musik ing SGA, kados ta ingkang kapacak wonten ing buku Puspa Ragam, (Jakarta, 1950). Wonten 14 penghargaan saking kathah lomba ngarang puisi, prosa, saha esai ing sadangunipun piyambakipun gesang. Wiwit saking lulus SR, pyambakipun lajeng mlebet SGB, lajeng saged mlebet ing SGA.
Ing antawisipun taun 1950 ngantos 1960, Piek Ardijanto ndherek kursus PGSLP lan B1 ing Semarang. Senajan sibuk piyambakipun tetep saged ngasilaken karya- karya arupi puisi, cerpen, saha fragmen ingkang kapacak wonten ing kathah media massa ing antawasipun: Gelora, Basis Indonesia, Sastra, Horison, lan sanѐs- sanѐsipun.Ing taun 1961, Piek pindhah tugas dhateng SMA 1 Kota Tegal. Piek ugi sampun naté dhateng Walanda saaking undhanganipun Radio Nedherland Wereldomrroep ing Hilversum kanthi tugas dados Juri Sayembara Menulis Cerpen “Kincir Emas”. Piyambakipun wonten ing Walanda sareng kaliyan Asbari Nurpatria Krisna.
Karyanipun:
Burung-burung di Ladang (1983)
Percakapan Cucu dengan Neneknya (1983)
Desaku Sayang (1983)
Lelaki di Pinggang Bukit (1984)
Lagu Bening dari Rawa Pening (1984)
Nelayan dan Laut (1995)
Biarkan Angin Itu (1996)
Kawindra-kawindra (sareng kaliyan Rita Oetoro, 1984)
Laut Sebagai Gelanggang Hidup Manusia (waosan laré- laré, 1984)
Apresiasi Sastra dalam Nilai-nilai Luhur Budaya Bangsa (satunggaling wawasan, 1984)
Menyambut Hari Sumpah Pemuda (Langen Suara, 1984)
Gaya Baru, buku pelajaran kanggé laré SMP (1984)
antologi sesarengan :
Antologi Angkatan 66 (H.B Jassin, 1968)
Tanggal 2 (Linus Suryadi, 1987)
Senayu (sesarengan kaliyan penyair Purwokerto, 1995)
Antologi Puisi Jawa Tengah (1994)
angsal penghargaan :
Pemenang kaping 2 awit saking sapérangan puisnipun ingkang kapacak wonten ing Majalah Sastra (1962)
Pemenang kaping 2 wonten ing Sayembara menulis puisi saking Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah (1964)
Pemenang Harapan wonten ing Sayembara Menulis Esei Sastra, Dewan Kesenian Jakarta (1978)
Penghargaan dari Yayasan Buku utama saking puisinipun, Lagu Bening dari Rawa Pening (1984)
Hadiah saking seratan Esei Basa Jawa, Ninthingi Geguritan, saking Lembaga Pemeliharaan Bahasa Jawa “Javanologi”
Penghargaan saking Pusat Bahasa saking bukunipun, Biarkan Angin Itu
Penghargaan dados Pelopor Penyair Tegal saking Dewan Kesenian Kota Tegal. Dinten sédanipun ing tangal (22 Mei) dipundadosaken Hari Kepenyairan Tegal (2005)
Penghargaan Pakarti seni lan hadiah saking Walikota Tegal dados penyair ingkang saged ngangkat citranipun Kota Tegal (2008)

Sides Sudyarto DS

Sides Sudyarto DS
Lahir :
Desa Banjaranyar, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, 14 Juli 1942
Wafat :
Jakarta, 9 Oktober 2012
Pendidikan :
Sekolah pendidikan guru
SMA PGRI Tegal,
jurusan Sastra Budaya,
Universitas Indonesia,
jurusan Sastra Belanda,
Akademi Bahasa Asing (ABA)
Karier :
Guru Sekolah Dasar,
Penarik Becak,
Anggota redaksi majalah anak-anak Bobo,
Reporter Harian KOMPAS,
Redaktur majalah
Jakarta-Jakarta,
Editor penerbit Sinar Harapan,
Managing Majalah Tiara,
Redaktur Harian Media Indonesia
Karya Kumpulan Cerpen :
Salat Lebaran Kawanan Tahanan Politik di Kamp Konsentrasi
Karya kumpulan puisi : Kebatinan (1975,)
Lapar (1977),
Tiang gantungan (1985),
Karya Buku Puisi Anak-Anak :
Lilin Lilin 45,
Pahlawan Dalam Puisi, Pancasila Dalam Puisi.
Karya Novel :
Rona Hati Kekasih
Bernama lengkap Sudiharto, lahir pada 14 Juli 1942 di Desa Banjaranyar, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Pernah menempuh sekolah pendidikan guru. Kemudian menjadi guru Sekolah Dasar di Pekiringan, Tegal, Jawa Tengah. Sambil mengajar, ia meneruskan sekolah kembali di SMA PGRI Tegal, Jawa Tengah, jurusan Sastra Budaya.
Hijrah ke Jakarta, kemudian bekerja sebagai penarik becak selama dua tahun. Sambil menarik becak ia berkuliah di Universitas Indonesia, jurusan Sastra Belanda. Disore harinya, ia berkuliah di Akademi Bahasa Asing. Sempat menjadi anggota redaksi majalah anak-anak Bobo. Selanjutnya menjadi reporter Harian Kompas, bidang seni budaya, kemudian beralih ke bidang Politik Internasional. pernah juga menjadi redaktur majalah Jakarta-Jakarta, editor penerbit Sinar Harapan, managing majalah Tiara (1985) dan redaktur harian Media Indonesia di Jakarta.
Sambil bekerja sebagai wartawan, Sides juga menulis dan menerjemahkan cerita anak-anak dari bahasa asing. Ia juga menulis buku puisi anak-anak, diantaranya, Lilin Lilin 45, Pahlawan Dalam Puisi dan Pancasila Dalam Puisi. Telah menghasilkan dua buku kumpulan puisi, masing-masing, Kebatinan (1975), Lapar (1977) dan Tiang gantungan (1985). Ia Juga menulis novel fiksi, Rona Hati Kekasih (novel remaja) dan kumpulan cerita pendek berjudul Salat Lebaran Kawanan Tahanan Politik di Kamp Konsentrasi.
Karya-karyanya banyak dimuat disejumlah media cetak antara lain: Majalah Kebudayaan Horison, Majalah Sastra, Budaya Jaya, Harian Sinar Harapan, Harian Kompas, Dewi, Majalah Kartini, Ulumul Qur’an, Harian Suara Pembaruan, Warta Harian, Harian Jurnal Indonesia, majalah Jakarta-Jakarta, Harian Republika, majalan Bobo dan Halo.

Yono Daryono


Yono Daryono (lahir di Tegal, Jawa Tengah, 25 Maret 1955; umur 58 tahun) adalah salah satu tokoh teater di Jawa Tengah. Memulai menulis ketika kelas dua SMA lewat karyanya berbentuk sajak, artikel, dan cerpen yang dimuat di beberapa surat kabar dan majalah seperti: Gadis, Kartini, Suara Karya, Jayakarta, Sinar Harapan, Mutiara, Merdeka, Suara Merdeka, Wawasan, Majalah Sastra Horison, dan lain-lain.
Selain sajak dan cerpen, ia menulis lakon drama antara lain Umar Khatob (1982), Roro Mendut (1983), Masih Muda (1983), Ronggeng-Ronggeng (1986), Mandor (1987), Braen (1987), Adipati Anom (menjadi salah satu pemenang penulisan naskah drama terbaik se-Jateng,1988), Palagan Kurusetra (1991), Opera Gajah Atawa Abrahah (2003), Opera Sebayu (2006), Sunan Panggung (2007), Opera Brandal Mas Cilik (2008), dan lain-lain.
Petilan naskah drama Ronggeng-Ronggeng masuk dalam antologi Horison Sastra Indonesia (2002). Naskah Sunan Panggung dipentaskan di Tegal, 9 Februari 2008, dan Taman Budaya Surakarta, 11 April 2008.
Darbol -sapaan akrab Yono Daryono- banyak berkecimpung dalam kegiatan kesenian di kotanya. Pada tahun 1978 bersama Eko Tunas dan YY Haryo Guritno serta kawan-kawan lainnya, mendirikan Teater RSPD. Tahun 1981 mendirikan Studi Group Sastra Tegal (SGST). Sampai sekarang menetap di Kota Tegal dalam kegiatannya sehari-hari sebagai Pengelola Radio Sebayu Pro FM, dan koresponden RCTI, pernah menjadi Dosen Luar Biasa di FKIP UPS Tegal, jurusan Bahasa dan Sastra, Bidang Studi Drama.
Di Teater RSPD yang dipimpinnya telah banyak menggarap lakon-lakon drama dan dipentaskan tidak saja di kotanya tetapi juga di beberapa kota antara lain: Pekalongan, Semarang, Surakarta, Banyumas, Cirebon, Jakarta, Padang, Sumatera Barat dalam Temu Teater Nasional 1986, Solo dalam pertemuan Teater Nasional (1993). Beberapa kali pentas di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Tahun 1986 pentas Roro Mendut di TIM, Jakarata. Tahun 1997 pentas dalam acara Pasar Tontonan Jakarta (Pastojak 1997, TIM) bersama N Riantiarno. Dalam kegiatannya sebagai sutradara teater pernah menjadi sutradara terbaik tingkat tingkat Jawa Tengah tahun 1986.
Sebagai penulis cerpen, dia pernah membaca cerpen-cerpennya di Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta dan Bengkel Teater Rendra. Beberapa puisinya masuk antologi antara lain: Antologi Puisi Jawa Tengah (1994), Dari Negeri Poci 1 (Pustaka Sastra 1994). Cerpen terbarunya, Seh Malang Sumirang, dimuat di Harian Suara Merdeka (1Juli 2007) mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan sebagai cerpen sufi yang diperhitungakan.
Selain sastra dan teater, ia juga menekuni bidang film. Lulusan Kursus Sinematografi Yayasan Citra Jakarta 1991, ini beberapa kali membintangi film dan sinetron, baik sebagai pemain pembantu maupun pemain utama. Sebagai pemain utama, pernah masuk nominator pemeran utama pria terbaik Festival Sinetron tahun 1995 lewat judul Jejak Sang Guru, karya Imam Tantowi.
Hampir setiap hari Jadi Kota Tegal, 12 April, sejak tahun2002, Yono dipercaya menggarap drama kolosal di Alun-Alun Kota Tegal. Pada tahun 2008 April lalu menyutradarai drama kolosal dalam bentuk opera berjudul Brandal Mas Cilik yang melibatkan 150 pemain.
Karya:
Umar Khatob (1982)
Roro Mendut (1983)
Masih Muda (1983)
Ronggeng-Ronggeng (1986)
Mandor (1987)
Braen (1987)
Adipati (1988)
Palagan Kurusetra (1991)
Opera Gajah Atawa Abrahah (2003)
Opera Sebayu (2006)
Sunan Panggung (2007)
Opera Brandal Mas Cilik (2008
Penghargaan:
Moninator pemeran utama pria terbaik Festival Sinetron tahun 1995 lewat judul Jejak Sang Guru, karya Imam Tantowi
Pemenang penulisan naskah drama se-Jateng dalam judul Adipati Anom (1988).
Penghargaan Pakarti Seni dari Walikota Tegal (2008)

Rg.(Ronggo) Bagus Warsono

Rg.(Ronggo) Bagus Warsono
Rg.(Ronggo) Bagus Warsono lebih dikenal dengan Agus Warsono, SPd.MSi,dikenal sebagai sastrawan dan pelukis Indonesia. Lahir Tegal 29 Agustus 1965. Ayahnya adalah Rg Yosoef Soegiono seorang guru keluarga Ronggo Kastuba dari Mangkunegaran Solo. Sastrawan Kelahiran Tegal ini besar di Indramayu. Mengunjungi SDN Sindang II, SMP III Indramayu, SPGN Indramayu, (S1) STIA Jakarta , (S2) STIA Jakata. Tulisannya tersebar di berbagai media regional dan nasional. Redaktur Ayokesekolah.com.Pengalaman penulisan pernah menjadi wartawan Mingguan Pelajar, Gentra Pramuka, Rakyat Post, dan koresponden di beberapa media pendidikan nasional. Anggota PWI Cabang Jawa barat. Menikah dengan Rafiah Ross hinga sekarang, anak-anak Abdurrachman M.
Rg Bagus Warsono dikenal sebagai penggerak minat baca masyarakat. Sejak kecil sudah gemar membaca, pada usia 10 tahun sudah menamatkan cerita bersambung Api di Bukit Menoreh karya SH Mintardja. Kegemaran membaca dilanjutakan dengan tulis menulis. Membuka taman bacaan masyarakat di Indramayu dan mendirikan Himpunan Masyarakat Gemar Membaca (HMGM) Indonesia di Indramayu.
Karya antara lain:
1. Rumahku di Tepi Rel Kereta Api (Kumpulan cerpen anak 1992)
2. Menanti hari Esok (antologi puisi)
3. Mata Air (antologi puisi)
4. Bunyikan Aksara Hatimu (BAH) (antologi puisi)
5. Si Bung (Bung Karno) (antologi puisi)
6. Mas Karebet (Antologi Puisi) , Sibuku Media Yogyakarta 2015
Antologi bersama :
Puisi Menolak Korupsi (PMK II)
Cergam antara lain :
1. Si Kacung Ikut Gerilya
2. Kopral dali
3. Pertempuran Heroik Di Ciwatu
4. Pertempuran Selawe
5. Si Jagur
6. Panglima Indrajaya
7. Endang Dharma
8. Laskar Wiradesa

Apito Lahire

Apito Lahire
Apito Lahire (lahir di Tegal, Jawa Tengah, 9 Desember 1974; umur 39 tahun) adalah seorang aktivis sastra dan teater di Jawa Tengah. Sejak duduk di bangku SMA dia telah menulis puisi, cerpen, cerbung, monolog, dan naskah drama. Kemampuannya lebih terasah setelah belajar di ASDRAFI dan ISI Yogyakarta. Sepulang dari kota budaya itu, ia segera "mencangkul ladang kreatifitas" dengan mendirikan KST - Teater Pawon bersama Julis Nur Hussein, Ufti Adenda Aulia dan beberapa rekan lainnya. Menyutradai dan bermain dalam pentas Teater Pawon berjudul The Tragedy of Peace, Sungsang, The Sound Millenium Man, dan Waiting for What (1999-2001). Tahun 1999 ia pernah melakukan teater jalanan (happening art) sejauh 15 km dari Monumen GBN Procot Slawi sampai ke Balaikota Tegal berjudul Kesaksian Dara Perempuanku.
Mendapat beasiswa ketika kuliah di ISI. Belajar kabuki (teater tradisional Jepang) pada Prof. Muriyama di Yokohama, Jepang. Deklamasi puisi jalanan dan happening art-nya dijadikan objek studi oleh Prof. Dr. Richard Curtis dari Northen Territory University (NTU) Darwin, Australia (2002). Ditetapkan sebagai sutradara terbaik dalam Festival Nasional Monolog Putu Wijaya yang diselenggarakan oleh STSI Bandung (2003). Apito tinggal di Langgen 1/1 Talang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.
Beberapa antologi yang memuat puisinya antara lain:
Nyanyian Fajar (Teater Kene Bali, 1993)
Serayu, Getar II, Jentera Terkasa (1998)
Juadah Pasar (2001)
Perjumpaan (Lare’s Dramatic Tegal, 2002)
Ning (Sanggar Purbacaraka Fakultas Sastra Universitas Udayanana Bali, 2002).
Mung: Antologi Puisi Tiga Penyair Lintas Pantura, bersama Julis Nur Hussein dan Usman Didi Khamdani (2004)